BALI- Pulau Dewata yang selama ini dikenal sebagai surga wisata dunia tengah dibayangi sisi gelap. Dalam setahun terakhir, serangkaian kasus penculikan, penyiksaan, dan pemerasan terhadap warga negara asing (WNA) mencoreng citra aman Bali. Terbaru, Sergeii Domogatsky atau akrab disapa Mr. Terimakasih menjadi korban kejahatan serupa dengan ancaman pembunuhan yang menambah panjang daftar insiden berdarah di balik gemerlap pariwisata internasional itu.
Analis Kriminologi Indonesia, Edi Junaidi Ds, menilai pola kejahatan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Ia menyebutnya sebagai kejahatan terorganisir yang beroperasi sistematis dengan target jelas. “Ini bukan insiden acak, tapi kejahatan yang terencana dengan pola yang berulang. Para pelaku memiliki target spesifik, memantau korban, dan bergerak rapi,” ujar Edi melalui pers rilis, Kamis (6/11/2025).
Dalam penelusurannya, Edi menemukan bahwa para korban umumnya adalah ekspatriat, pemilik aset digital, atau investor asing yang menetap di Bali. Banyak dari mereka memilih bungkam lantaran ancaman serius dari para pelaku. “Publik harus tahu, kasus semacam ini sudah bejibun. Banyak korban memilih diam atau kabur ke luar negeri,” ungkapnya.
Yang mengkhawatirkan, kata Edi, sejumlah laporan korban justru mandek meski sudah viral di media sosial. “Sudah lapor, tapi tak ada kemajuan berarti. Kasusnya diam setelah ramai di sosmed,” katanya menambahkan.
Ia memperingatkan bahwa pembiaran terhadap kasus ini dapat menggerus kepercayaan publik dan investor internasional. “Jika tak segera ditangani, dampaknya bisa fatal. Wisatawan kehilangan rasa aman, investor mundur, dan reputasi Bali sebagai destinasi dunia bisa tercoreng,” tegasnya.
Untuk itu, Edi mendesak Polda Bali dan aparat penegak hukum menindak tegas para pelaku serta memperketat pengawasan di kawasan wisata. Ia bahkan mendorong pembentukan komisi khusus penanganan kejahatan internasional di Bali. “Ini bukan hanya soal satu kasus. Ini soal keamanan publik dan kredibilitas hukum di Indonesia,” ujarnya.
Dalam catatan Tempo, sedikitnya lima kasus serupa terjadi sepanjang setahun terakhir, dari Canggu hingga Ubud. Polanya serupa: pelaku menyamar sebagai aparat, membawa dokumen dan senjata palsu, menakuti korban, lalu memeras dengan jumlah miliaran rupiah.
“Fokus kita bukan mencari siapa yang salah dalam sengketa bisnis. Fokus kita adalah mencegah penculikan berikutnya,” pungkas Edi. “Keselamatan manusia harus selalu menjadi prioritas utama.”
Editor: Hasan.













