BENGKULU- Dalih akun diretas kini menjadi titik panas dalam polemik dugaan percakapan bernuansa seksual yang menyeret dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) RSUD Lebong, dr. MI. Setelah dipanggil dan dimintai klarifikasi, sang dokter membantah sebagai pengirim pesan. Namun, jejak DM yang disebut muncul dalam dua rentang waktu berbeda membuat kasus ini belum mereda.
Direktur RSUD Lebong, dr. Meinoffiandi Leswin, mengatakan dr. MI mengaku akun media sosial pribadinya telah diretas dan tidak berada dalam penguasaannya ketika percakapan tersebut terjadi.
“Berdasarkan keterangan yang disampaikan, akun media sosial milik dokter tersebut telah mengalami peretasan (hack) dan tidak dalam penguasaan yang bersangkutan pada saat terjadinya percakapan,” ujar Meinoffiandi, Kamis (3/9/2026).
Klaim tersebut kini menjadi bagian yang harus diuji. Sebab, dugaan komunikasi melalui DM dengan akun selebgram @leonakanza disebut tidak hanya muncul sekali, tetapi terdapat percakapan yang dikaitkan dengan rentang Desember 2025 dan kembali pada 2026.
JEJAK DIGITAL JADI TARUHAN
Di titik inilah pembuktian digital menjadi penting.
Jika benar terjadi peretasan, pemeriksaan dapat diarahkan untuk mengetahui kapan akun diambil alih, perangkat apa yang digunakan, serta siapa yang memiliki akses ketika pesan dikirim.
Sebaliknya, apabila tidak ditemukan bukti pengambilalihan akun, klaim peretasan tentu membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Namun, seluruh kemungkinan tersebut masih harus dibuktikan. Tangkapan layar maupun klaim peretasan belum dengan sendirinya membuktikan siapa pengirim sebenarnya.













