BENGKULU– Provinsi Bengkulu memanas. Ratusan mahasiswa dan pemuda dari berbagai elemen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menggelar aksi demonstrasi pada Senin (26/5), mengecam kegagalan Gubernur Helmi Hasan menuntaskan krisis bahan bakar minyak (BBM) seperti yang dijanjikan saat kampanye.
Aksi yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Bengkulu itu diwarnai kericuhan. Massa memaksa masuk ke dalam gedung pemerintah provinsi setelah kecewa karena gubernur tak kunjung hadir meski dijanjikan akan tiba dalam waktu 20 menit. Hingga pukul 18.00 WIB, Helmi Hasan tidak juga muncul. Ketiadaannya dituding karena lebih sibuk membuat konten TikTok daripada mengurus darurat BBM yang melumpuhkan aktivitas warga.
Dalam orasinya, massa menagih janji Helmi Hasan yang menyatakan bahwa dalam 100 hari kerja persoalan antrean BBM akan selesai. Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi sebaliknya. Antrian panjang masih terjadi di hampir seluruh SPBU di Bengkulu, menyebabkan pelajar, mahasiswa, dan buruh terhambat beraktivitas karena kesulitan mendapatkan BBM.
Selain itu, demonstran juga menuntut percepatan pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai yang dinilai sebagai salah satu penyebab terhambatnya distribusi BBM ke Bengkulu. Mereka juga memprotes kebijakan opsen pajak kendaraan bermotor yang melonjak hingga 66 persen, yang dinilai sangat membebani rakyat.
Aksi ini dipimpin oleh Presiden Mahasiswa Universitas Bengkulu, Theo Ramadhan, dan Koordinator Lapangan Muhammad Rabil Fahri , yang menyatakan bahwa unjuk rasa akan terus berlanjut hingga ada kejelasan dari pihak pemerintah provinsi.
Situasi memanas saat massa mendorong barikade aparat yang menjaga ketat pintu masuk kantor gubernur. Aparat kepolisian sempat bersitegang dengan demonstran sebelum situasi berhasil dikendalikan.
Aliansi mahasiswa dan pemuda menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk kekecewaan mendalam terhadap janji-janji kosong pemimpin daerah yang dianggap abai terhadap penderitaan rakyat.
Pewarta: Hasan













