”Khusus penanganan Karhutla, SOP-nya kita ubah. Jangan masyarakat yang diundang ke kantor polisi, tapi Kapolres dan Kapolsek yang turun patroli ke desa-desa. Kumpulkan para Kades dan bangunkan kembali semangat Masyarakat Peduli Api (MPA). Berikan sentuhan kemanusiaan, dialog, dan edukasi langsung di lapangan,” jelas lulusan terbaik Akpol 1995 tersebut.
Selain isu Karhutla, kehadiran anggota Polri di tengah masyarakat juga dibuktikan melalui capaian program yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Kapolda mengapresiasi keberhasilan jajaran dalam mencapai target lahan Ketahanan Pangan, penyelesaian 74 unit Jembatan Merah Putih, penataan tata kelola migas (SPBG), hingga eksekusi ribuan titik pembersihan lewat Program Belida (Bersih Lingkungan dan Asri).
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel menambahkan bahwa implementasi personel yang turun ke masyarakat ini harus berjalan beriringan dengan keterbukaan informasi. Setiap langkah dan inovasi kepolisian harus terekam dan terpublikasi sebagai bentuk transparansi publik.
”Sebagaimana ditekankan Bapak Kapolda, layanan informasi publik adalah bukti sah bahwa polisi bekerja. Ketika anggota kita di lapangan lelah melaksanakan patroli, bakti sosial, maupun pencegahan Karhutla, itu semua wajib diamplifikasikan melalui platform SPPT, Media Hub, maupun media arus utama. Kebaikan kepolisian jangan pernah ditutup-tutupi, agar masyarakat tahu dan literasi informasi Kamtibmas dapat tersampaikan dengan utuh,” ujar Kabid Humas.
Perwujudan Polri yang Presisi tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak kasus yang berhasil diungkap, melainkan dari seberapa cepat dan sering aparat penegak hukum hadir saat rakyat membutuhkan. Melalui langkah strategis turun langsung ke desa-desa dipadukan dengan amplifikasi layanan informasi publik yang transparan, Polda Sumsel tidak hanya sedang menjaga stabilitas keamanan wilayah, tetapi juga tengah merawat ikatan kepercayaan yang kuat dan humanis antara kepolisian dan masyarakat di seluruh penjuru Bumi Sriwijaya.













