BENGKULU– Krisis Pangan yang terjadi di Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara membuat ratusan masyarakat adat dari Pulau Enggano yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), dan Perhimpunan Pembela Masyarakat Adat Nusantara (PPMAN) menggelar aksi damai di Simpang Lima, Kota Bengkulu, Kamis (5/6/2025). Aksi tersebut turut didukung oleh perwakilan masyarakat adat dari Rejang Lebong, Kaur, Seluma, dan Lebong.
Mereka menuntut perhatian serius dari pemerintah pusat dan Gubernur Bengkulu terhadap krisis berkepanjangan yang dihadapi masyarakat adat di Pulau Enggano.
Krisis ini disebabkan oleh pendangkalan alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai yang hingga kini belum ditangani secara tuntas.
Akibat pendangkalan tersebut, kapal-kapal tidak dapat berlayar ke dan dari Pulau Enggano. Hal ini menyebabkan terganggunya distribusi logistik, termasuk pasokan pangan, bahan bakar minyak (BBM), dan kebutuhan pokok lainnya. Selain itu, masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan darurat tidak dapat dirujuk keluar pulau, sehingga situasi kesehatan menjadi semakin memprihatinkan.
Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, para peserta aksi menekankan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung lama tanpa adanya solusi konkret dari pihak berwenang. Mereka mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi alur pelayaran demi menyelamatkan keberlangsungan hidup masyarakat adat di Enggano.
Sebelum aksi dimulai, peserta terlebih dahulu melaksanakan ritual adat sebagai bentuk doa keselamatan bagi seluruh warga yang berada di Pulau Enggano. Ritual ini juga menjadi simbol bahwa perjuangan mereka dilakukan secara damai dan berdasarkan nilai-nilai adat.
Aksi damai berlangsung tertib dan mendapat pengawalan dari aparat kepolisian. Para peserta berharap tuntutan mereka didengar dan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah.
Pewarta: Hasan













