Alaku
Alaku

Ratusan Warga Batu Bandung Kepahiang Tuntut Otopsi Terbuka Kematian Gita Fitri

Ratusan warga Batu Bandung gelar aksi damai tuntut hasil otopsi kematian Gita Fitri secara terbuka.(Foto : Dok, 3/3/2026)

KEPAHIANG – Gelombang desakan agar kematian Gita Fitri Ramadi diusut secara transparan kian menguat. Ratusan warga Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang, mengibarkan bendera kuning sebagai simbol duka sekaligus tuntutan agar proses otopsi dilakukan terbuka dan tanpa rekayasa.

Sejak pagi, Selasa (3/3/2026) bendera kuning terpasang di sepanjang jalan desa hingga ke rumah keluarga korban. Duka belum reda, namun keresahan warga semakin terasa. Mereka menilai penyebab kematian Gita menyisakan sejumlah kejanggalan yang belum terjawab.

Warga meminta hasil otopsi dibuka secara terang dan diumumkan resmi kepada publik. Proses pemeriksaan, tegas mereka, harus dilakukan secara ilmiah, objektif, dan disaksikan keluarga guna mencegah spekulasi yang berkembang liar.

Pihak keluarga menyampaikan tuntutan serupa. Mereka mendesak aparat penegak hukum bekerja profesional dan tidak menutup-nutupi fakta. “Kami ingin semuanya jelas dan sesuai prosedur. Jangan ada yang disembunyikan,” ujar perwakilan keluarga.

Diketahui, Satuan Reserse Kriminal Polres Kepahiang telah menetapkan seorang tersangka terkait kematian Gita Fitri Ramadhani (25). Korban sebelumnya disebut meninggal akibat tersengat aliran listrik dari jerat babi di perkebunan warga Desa Talang Sawah, Kecamatan Muara Kemumu, pada Rabu (4/2/2026) dini hari.

Namun, keluarga mempertanyakan penyebab kematian yang hanya disebut akibat tersengat listrik. Mereka mengaku menemukan bekas luka jepit di bagian kaki korban yang dinilai perlu penjelasan lebih mendalam.

Saat ini pihak kepolisian sedang melaksanakan otopsi di makam korban. Aparat kepolisian tampak berjaga untuk memastikan situasi tetap kondusif. Hingga berita ini diturunkan, kondisi desa relatif aman. Meski demikian, tuntutan agar kasus ini dibuka seterang-terangnya terus menggema.

Bagi warga, pengibaran bendera kuning bukan bentuk perlawanan, melainkan seruan moral agar keadilan ditegakkan tanpa bayang-bayang keraguan.

Editor : Hasan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *