BENGKULU- Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mendorong kopi daerah tidak lagi sekadar menjadi komoditas perkebunan, tetapi naik kelas menjadi produk ekspor bernilai tinggi dan mampu bersaing di pasar global.
Dorongan itu ditandai dengan pelepasan ekspor perdana 19,2 ton kopi robusta Bengkulu ke Italia, Eropa. Komoditas tersebut bernilai sekitar US$71 ribu atau hampir Rp1,2 miliar.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi Bengkulu. Pasalnya, selama ini kopi belum terlihat secara optimal dalam catatan ekspor daerah.
“Kalau saya melihat data BPS, komoditas ekspor yang tidak pernah muncul itu CPO dan kopi. Mudah-mudahan mulai hari ini dan seterusnya komoditas ekspor kita benar-benar menunjukkan komoditas strategis yang jumlahnya besar secara keekonomian dan petani yang terlibat juga sangat signifikan,” ujarnya.
Menurut Wahyu, Bengkulu memiliki modal kuat untuk bersaing di pasar internasional. Produksi kopi mulai diperkuat dari sektor hulu hingga hilir, mulai dari petik merah, pengolahan pascapanen, peningkatan kualitas, hingga pengembangan produk UMKM.
Namun, ekspor perdana tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni. BI mendorong agar pengiriman kopi Bengkulu dilakukan secara berkelanjutan sehingga kepercayaan pasar global terus terbentuk.
BI Perkuat Petani dan UMKM
Penguatan ekosistem kopi menjadi salah satu fokus BI. Tidak hanya menyasar kualitas produksi, BI juga mendorong kelembagaan petani melalui korporatisasi petani kopi.













