Wahyu menilai petani membutuhkan kelembagaan yang kuat agar memiliki posisi tawar lebih baik, termasuk dalam akses pembiayaan dan pemasaran.
“Kalau dari pertanian hortikultura ada badan usaha milik petani, mungkin kita perlu juga punya badan usaha milik petani kopi. Kelembagaan ini menjadi hal penting agar petani dan koperasi lebih berorientasi pasar, termasuk pasar global dan pembiayaan,” katanya.
BI juga mempertemukan pelaku UMKM dengan perbankan melalui business matching. Langkah ini diarahkan untuk membuka akses pembiayaan sekaligus memperkuat kapasitas usaha dan kesiapan ekspor.
Dukungan terhadap petani kopi bahkan telah dilakukan BI sejak 2004. Bantuan diberikan dari hulu hingga hilir, antara lain berupa bibit kopi, mesin sorter, grinding, solar dryer dome, mesin roasting, dan berbagai peralatan pengolahan.
“Ini mudah-mudahan menambah peningkatan kualitas yang dihasilkan petani dan kemudian juga meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
11 UMKM Kopi Didorong Naik Kelas
<span;>Pada 2026, BI Bengkulu juga mendorong pengembangan 11 UMKM kopi dengan produk kategori premium dan specialty.
Penguatan tidak hanya menyasar produk, tetapi juga sumber daya manusia. Sejumlah barista Bengkulu dikirim mengikuti kompetisi di tingkat regional.
<span;>Hasilnya, barista Bengkulu mampu menorehkan prestasi di tingkat regional Sumatera. Salah satunya Niki yang bersama tujuh barista lainnya dikirim mengikuti kompetisi di Medan dan berhasil menjadi juara regional Sumatera sekaligus barista terbaik.













