BENGKULU – Krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Bengkulu kian memburuk. Antrean panjang terjadi di hampir seluruh SPBU sejak Sabtu (24/5/2025) malam dan terus berlanjut hingga Minggu. Di Kota Bengkulu, warga bahkan harus pulang dengan kecewa karena BBM habis saat giliran mereka tiba. Penjual eceran pun tidak lagi menjual BBM karena kesulitan mendapatkan pasokan.
“Untuk sementara kami stop dulu menggunakan motor. Kalau ada keperluan, biar kami naik ojol saja daripada ikut antre tapi tidak dapat,” ujar Sinta, warga Kota Bengkulu.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan dalam rapat koordinasi dengan PT Pertamina Bengkulu, Minggu (25/5/2025), menyebut bahwa antrean panjang bukan fenomena baru dan tidak semata-mata disebabkan pendangkalan alur laut di Pelabuhan Pulau Baai.
“Ini bukan sekadar soal pendangkalan. Dulu waktu alur masih bagus pun, antrean tetap panjang. Jadi kita butuh solusi lebih menyeluruh,” kata Helmi.
Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi BBM, menyebut provinsi tetangga seperti Lampung dan Sumatera Selatan tidak mengalami krisis serupa.
Menanggapi hal itu, Fauzan dari PT Pertamina Bengkulu menyampaikan bahwa distribusi BBM saat ini hanya bergantung pada jalur darat dari Lubuk Linggau dan Jambi karena kapal tanker tak dapat masuk ke Pelabuhan Pulau Baai. Ia menambahkan, gangguan operasional kereta pengangkut BBM dari Palembang membuat stok di Lubuk Linggau kosong.
“Kami sedang berkoordinasi dengan PT KAI agar distribusi bisa segera normal kembali,” ujar Fauzan.
Sementara itu, kelangkaan BBM membuat harga eceran sempat melambung hingga Rp20.000 per liter untuk Pertalite, namun kini penjual eceran pun berhenti menjual. “Kami tidak bisa menjual minyak eceran karena sulit untuk mendapatkannya,” ungkap Ardi, warga Kota Bengkulu.
Kondisi ini membuat masyarakat semakin resah. Banyak yang memilih tidak menggunakan kendaraan pribadi dan beralih ke ojek daring demi menghindari antrean yang belum tentu membuahkan hasil.
Pewarta dan Editor: Hasan













