“Kami tidak melarang orang mengantre BBM. Tapi jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tidak kebagian. Kami juga punya hak untuk beraktivitas dan mencari nafkah,” tegasnya.
Sorotan masyarakat juga tidak lepas dari fakta bahwa sebelumnya Ditreskrimsus Polda Bengkulu melalui Subdit IV Tipidter pernah mengungkap kasus dugaan penyalahgunaan Bio Solar subsidi di Kota Bengkulu. Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang mengaitkan antrean panjang yang terjadi saat ini dengan praktik penyalahgunaan tersebut.
Di sisi lain, petugas SPBU Kebun Tebeng menyebut habis atau tidaknya stok bergantung pada pasokan dari PT Pertamina. Jika pasokan hanya sekitar 8 ton, pengisian biasanya selesai pada siang hari. Sementara pasokan 16 ton memungkinkan pelayanan berlangsung hingga sore dalam dua sesi.
Sebelumnya, PT Pertamina bersama BPH Migas telah menambah kuota Bio Solar subsidi Bengkulu sebesar 1.588 kiloliter (KL) pada Juli 2026. Total kuota meningkat dari 105.658 KL menjadi 107.246 KL, atau setara sekitar 344 KL per hari. Namun, tambahan tersebut belum terlihat berdampak signifikan terhadap panjangnya antrean di lapangan.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, Rico Yulyana, mengatakan pasokan Bio Solar sebenarnya tidak mengalami gangguan. Menurutnya, lonjakan antrean dipicu meningkatnya jumlah pengguna BBM subsidi akibat selisih harga yang cukup jauh dibandingkan Dexlite. Karena itu, ia mengimbau kendaraan operasional perusahaan tidak lagi menggunakan BBM subsidi.













