Alaku
Alaku

Pers: Pilar Keempat Demokrasi yang Terlupakan

Namun, manfaat ini harus diimbangi dengan komitmen terhadap etika jurnalistik. Ketika wartawan atau media hanya menjadi corong pemerintah tanpa independensi, maka yang terjadi bukan komunikasi, melainkan dominasi narasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan media yang tidak hanya menyampaikan, tetapi juga mengkritisi.

Jalan Tengah: Profesionalisme dan Akuntabilitas

Solusinya bukan menolak jasa wartawan untuk negara, melainkan menata ulang relasi antara media dan pemerintah. Jasa informasi publik harus dijalankan oleh wartawan yang menjunjung tinggi integritas, bukan sekadar memenuhi pesanan. Pemerintah pun harus membuka ruang bagi media untuk bertanya, mengkritik, dan menyampaikan suara masyarakat.

Transparansi dalam penggunaan anggaran media, keterlibatan jurnalis independen, dan publikasi yang berbasis data adalah langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa jasa wartawan tidak menjadi alat kekuasaan, melainkan mitra demokrasi.

Jejak Sejarah: M. Tabrani dan Peran Transformasional Pers

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa pers bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi juga penggagas perubahan. M. Tabrani, seorang jurnalis visioner yang kini diakui sebagai Pahlawan Nasional, adalah tokoh yang mengusulkan istilah “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan. Ia menolak istilah “bahasa Melayu” demi menghindari kesukuan dan memperkuat identitas nasional.

Gagasan ini ia suarakan lewat media massa, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928. Ini bukan sekadar kontribusi jurnalistik ini adalah bukti bahwa pers mampu menciptakan sejarah, bukan hanya melaporkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *