Dalam pelaksanaannya, tim trauma healing mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain bersama, bernyanyi, berinteraksi, serta melakukan aktivitas lainnya yang dapat membantu mengurangi tekanan psikologis akibat pengalaman gempa bumi.
Pendekatan tersebut dilakukan secara humanis dan disesuaikan dengan kondisi anak-anak di lokasi pengungsian. Kehadiran personel Polri diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus menghadirkan suasana yang lebih positif di tengah kondisi pengungsian.
AKBP Yudhi Franata berharap kegiatan trauma healing dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan sehingga membantu masyarakat, khususnya anak-anak, dalam proses pemulihan pascabencana.
“Kami berharap melalui pendampingan ini anak-anak dapat kembali ceria dan merasa bahwa mereka tidak sendiri. Kami akan terus hadir dan mendampingi masyarakat selama dibutuhkan,” ungkap AKBP Yudhi.
Bagi Polres Ende, trauma healing bukan sekadar kegiatan bermain bersama anak-anak. Lebih dari itu, setiap senyum dan tawa yang kembali hadir menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat setelah menghadapi bencana.
Di tengah kehilangan dan ketidakpastian pascagempa bumi, kehadiran, perhatian, dan pendampingan menjadi bentuk nyata kepedulian Polri untuk memberikan rasa aman serta membantu masyarakat bangkit kembali.













