Krui bukan sekadar hamparan pantai indah di pesisir barat Lampung. Ia adalah aset strategis yang, jika dikelola secara serius, mampu menjadi mesin utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: pengembangan pariwisata Krui hingga kini masih berjalan tanpa arah yang tegas, terukur, dan berkelanjutan.
Pandangan ini bukan asumsi kosong. Yanuar Rikardo, S.IP., M.AP., dosen kelahiran Lampung yang kini berkiprah di Bengkulu, menilai pengembangan kawasan wisata Krui masih cenderung sporadis. Potensi besar yang dimiliki belum ditopang oleh perencanaan terpadu yang mampu mengonversi kunjungan wisata menjadi kontribusi nyata bagi kas daerah.
Geliat wisata Krui memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kunjungan wisatawan, termasuk mancanegara, terus bertambah. Namun, peningkatan angka kunjungan tidak otomatis berbanding lurus dengan pertumbuhan PAD. Di sinilah letak persoalan mendasarnya: pariwisata ramai di permukaan, tetapi lemah dalam dampak ekonomi.
Padahal, Krui memiliki keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki daerah lain. Pantai Tanjung Setia dikenal sebagai salah satu destinasi selancar kelas dunia. Pantai Labuhan Jukung menjadi pusat aktivitas wisata lokal, sementara Pulau Pisang menyimpan daya tarik budaya dan alam yang kuat. Kombinasi ini seharusnya cukup untuk menjadikan Krui sebagai destinasi unggulan berbasis nilai ekonomi tinggi.
Sayangnya, potensi besar tersebut belum diimbangi dengan tata kelola yang disiplin. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2017 sebenarnya telah memberi kerangka pengembangan melalui pembagian zona wisata. Namun implementasi di lapangan masih jauh dari optimal. Regulasi seolah berhenti sebagai dokumen formal, tanpa pengawasan dan konsistensi pelaksanaan.
Akibatnya, pengembangan wisata berjalan tidak terintegrasi. Program bersifat parsial, inovasi minim, dan orientasi jangka panjang kerap diabaikan. Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi ini membuka dua risiko serius: kerusakan lingkungan akibat eksploitasi yang tidak terkendali dan ketimpangan ekonomi yang berpotensi meminggirkan masyarakat lokal.
Dalam konteks ini, pendekatan ekowisata bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Pariwisata harus dibangun di atas prinsip keberlanjutan: lingkungan terjaga, masyarakat lokal menjadi pelaku utama, dan manfaat ekonomi terdistribusi secara adil. Tanpa itu, pariwisata hanya akan menjadi aktivitas konsumtif yang tidak meninggalkan dampak jangka panjang.
Pemerintah daerah dituntut keluar dari pola lama. Penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengembangan UMKM lokal, serta perluasan model homestay berbasis masyarakat harus menjadi prioritas. Ini bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi ekonomi wisata yang sesungguhnya.
Di sisi lain, transparansi pengelolaan juga menjadi isu krusial. Sektor pariwisata kerap menjadi ruang abu-abu dalam pengumpulan retribusi. Kebocoran PAD, baik akibat sistem yang lemah maupun praktik pungutan liar, berpotensi menggerus manfaat ekonomi yang seharusnya dinikmati daerah.
Pembangunan infrastruktur seperti Bandara Taufiq Kiemas memang patut diapresiasi. Namun aksesibilitas saja tidak cukup. Tanpa manajemen destinasi yang profesional, wisatawan hanya datang dan pergi tanpa meninggalkan dampak ekonomi yang signifikan.
Data pertumbuhan sektor pariwisata di Pesisir Barat menunjukkan tren positif. Ini adalah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Namun momentum hanya akan bernilai jika direspons dengan kebijakan yang tepat, terarah, dan konsisten.
Krui tidak membutuhkan sekadar promosi. Krui membutuhkan arah yang jelas.
Jika pemerintah daerah serius ingin mengoptimalkan PAD, maka kuncinya sederhana tetapi tidak mudah: tata kelola yang disiplin, penegakan regulasi yang konsisten, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat lokal. Tanpa itu, Krui hanya akan menjadi destinasi indah yang ramai dikunjungi, tetapi miskin kontribusi.
Pilihan kini ada di tangan para pemangku kebijakan: menjadikan Krui sebagai ikon pariwisata berkelanjutan yang menghidupi daerah, atau membiarkannya terus berjalan tanpa arah hingga perlahan kehilangan daya saingnya.













