Tetapi karena persoalan yang berulang setiap tahun tidak cukup diselesaikan dengan saling menyalahkan.
Kalau memang ada penyimpangan distribusi, ungkap.
Kalau memang kuota kurang, katakan.
Kalau memang konsumsi melonjak karena selisih harga Dexlite dan Bio Solar, jelaskan dengan data.
Publik dewasa bisa menerima kenyataan.
Yang sulit diterima adalah ketidakjelasan.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai berpikir mencari sumber pendapatan baru. Wakil Gubernur Mian bahkan membawa gagasan pajak air permukaan bagi perkebunan sawit ke forum nasional APPSI.
Logikanya sederhana.
Jalan provinsi rusak. Truk sawit lewat setiap hari. Daerah membutuhkan uang untuk memperbaikinya.
Artinya, pemerintah sedang mencari solusi menambah pendapatan.
Namun, di saat yang sama, masyarakat masih sibuk mengantre mendapatkan solar untuk menggerakkan roda ekonomi.
Inilah ironi yang sedang terjadi.
Daerah berbicara tentang kemandirian fiskal.
Masyarakat masih berbicara tentang mendapatkan bahan bakar.
Dua-duanya sama penting.
Karena pembangunan tidak akan bergerak tanpa kendaraan.
Dan kendaraan tidak akan bergerak tanpa solar.
Argentina mengajarkan satu hal.
Pertandingan belum selesai sampai peluit panjang berbunyi.
Mungkin persoalan Bio Solar Bengkulu juga begitu.
Masih ada waktu membuktikan bahwa semua benar-benar baik-baik saja.
Syaratnya hanya satu.
Jangan diam.
Karena dalam urusan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat jauh lebih mahal daripada setetes Bio Solar.Jika diinginkan, opini ini juga bisa dibuat lebih tajam, lebih satir, dan lebih khas gaya kolom Dahlan Iskan dengan kalimat-kalimat pendek dan penutup yang lebih menggigit.













