Menurut dia, pengurus rela mengeluarkan biaya pribadi untuk menjalankan aktivitas organisasi. “Kadang-kadang juga sendiri berbuat. Jalan berangkat dari rumah ke sini kan pakai bensin, pakai ini, uang sendiri keluar. Karena tidak kita gaji. Dan alhamdulillah semuanya masih semangat. Semuanya masih semangat. Kenapa? Demi Provinsi Bengkulu.”
Anggaran Diprioritaskan untuk Atlet
KONI juga menegaskan komitmen untuk mengarahkan anggaran kepada atlet dan pelatih. Penggunaan dana, kata dia, harus melalui prosedur dan pengawasan pemerintah daerah.
“Komitmen bersama kami bahwa seluruh dana yang ada di KONI itu hanya buat atlet dan pelatih. Tidak ada buat yang lain. Jadi untuk dunia olahraga,” katanya.
Ia menjelaskan pencairan anggaran tidak bisa dilakukan secara langsung karena harus melewati sejumlah tahapan administrasi, mulai dari Dispora, asisten, Sekda hingga gubernur. Verifikasi dan pemeriksaan penggunaan anggaran sebelumnya juga menjadi bagian dari proses.
“Harus verifikasi dulu, harus kemudian Inspektorat juga masuk dulu. Dan yang sudah dipergunakan kemarin harus clear dulu, SPD harus clear dulu. Baru kemudian boleh cair lagi,” ujarnya.
Atlet Diberi Ruang untuk Fokus
KONI juga membentuk tim monitoring untuk memantau latihan atlet, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Dukungan anggaran dapat dihentikan jika atlet tidak memenuhi komitmen latihan.
“Tim monitoring ini mantau terus atlet ini, setiap hari. Sabtu, Minggu, setiap hari mantau atlet. Supaya latihan. Kalau mereka malas latihan maka ini yang namanya support anggaran, stop,” katanya.













