Menurut dia, pembinaan tidak cukup hanya dengan memberikan uang pembinaan. KONI harus memastikan atlet mampu bertahan secara ekonomi hingga mencapai prestasi.
Ia mencontohkan atlet tinju Bengkulu yang sempat enggan berlatih karena tidak memiliki penghasilan. Atlet tersebut kemudian direkrut untuk bekerja di KONI sekaligus masuk dalam program pembinaan.
“Kita pekerjakan di KONI. Sekarang masuk pembinaan. Jadi saya bilang itu kamu harus memikir apa masalah kebutuhan hidup dan lain-lain, itu urusan KONI,” katanya.
Langkah serupa diterapkan kepada atlet lain yang sebelumnya membela provinsi berbeda karena persoalan kesejahteraan.
<span;>Menurut dia, sejumlah atlet Bengkulu sebenarnya memiliki potensi besar. Atlet biliar pernah mempersembahkan emas untuk Jawa Barat, sementara atlet sepatu roda asal Bengkulu juga mampu menyumbangkan emas.
“Dengan satu sisi yang lain bahwa jangan ada masalah, harus saya urusan. Uang hanya menara, jangan ada masalah,” ujarnya.
KONI berharap pola pembinaan tersebut mengubah hasil Bengkulu di PON mendatang. Bagi pengurus, prestasi atlet bukan hanya soal medali, tetapi juga kebanggaan daerah.
“Jangan tanyakan apa yang sudah didapat dari Bengkulu ini, tapi sampaikan apa yang sudah diberikan untuk Bengkulu, itu saja,” katanya.













