Dengan demikian, ekspor perdana ke Italia diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Momentum tersebut harus menjadi pembuka jalan bagi ekspor berikutnya dengan volume lebih besar, pasar lebih luas dan nilai jual yang semakin tinggi.
Kopi Bengkulu tidak boleh berhenti sebagai komoditas yang ditanam dan dipanen. Kopi harus memiliki nama, identitas, nilai tambah dan pasar global.
Jurnalis Ekonomi Dituntut Akurat dan Berimbang
Dalam kesempatan yang sama, wartawan ekonomi Angga Sukmawijaya menekankan pentingnya akurasi dan objektivitas dalam pemberitaan ekonomi.
Menurut dia, wartawan harus mampu melihat persoalan dari berbagai sisi dan memberikan ruang yang proporsional kepada seluruh pihak. Prinsip tersebut menjadi penting karena isu ekonomi sering berkaitan dengan kepentingan pemerintah, pelaku usaha, pekerja, konsumen hingga masyarakat luas.
“Pertama, pasti harus objektif. Menunjukkan dari semua sisi, memberikan ruang kepada semua pihak,” ujarnya.
Tantangan berikutnya adalah akurasi dan kejelasan data. Wartawan ekonomi tidak boleh sembarangan menggunakan angka karena kesalahan dalam menyampaikan data dapat mengubah persepsi publik.
Angka pertumbuhan ekonomi, misalnya, harus disertai konteks yang jelas. Begitu pula data omzet, investasi, produksi maupun indikator ekonomi lainnya harus diverifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
“Challenge dari wartawan ekonomi itu adalah akurasi, akurasi dan kejelasan data,” katanya.
Selain akurat, berita ekonomi harus kontekstual dan edukatif. Wartawan tidak cukup hanya menyodorkan angka kepada pembaca. Data harus dijelaskan agar publik memahami makna di balik angka tersebut dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.













